MASKER PREMIUM DENGAN HARGA MAKLUM
Merebaknya wabah virus
covid-19 membuat pemerintah Indonesia menghimbau agar perusahaan menerapkan work form home (WFH) atau kerja dari
rumah bagi para pegawainya. Hal ini ditujukan untuk memutus rantai penyebaran
virus yang terus meningkat. Meski terdengar sederhana, namun ternyata work from home tidak semudah yang
dibayangkan apalagi bagi mereka yang belum terbiasa.
Perempuan tiga puluh
enam tahun ini awalnya bekerja sebagai pegawai toko di salah satu pusat pembelanjaan di kota Surabaya. Namun
himbaun pemerintah terhadap WFH yang harus segera dijalankan, terpaksa Ibu Nur
Regal dengan sapaan sehari-hari Ibu Nur ini kembali menekuni bidang keahlian jahit
menjahit. Sebab, kegiatan ini lah yang saat ini dapat menompang ekonomi
keluarganya.
“Awalnya saya hanya
menerima menjahit baju sebagai pekerjaan sampingan saya, kemudian wabah virus
covid-19 ini menyebar dan orang mulai sulit mencari masker. Kalau pun ada
harganya sangat begitu mahal. Akhirnya saya memproduksi sendiri dan ternyata
sambutan masyarakat di luar dugaan,” kata Nur, Sabtu (04/4).
Ia pun membuat masker
dari kain katun yang terdiri dari dua lapis dan satu lapisan lagi untuk
menyimpan tisu. Total keseluruhan menjadi 3 lapis dan dipatok harga satu lusin
hanya 100rb. Satu demi satu pesanan pun mulai bermunculan. Antusias masyarakat
menyebutnya menjadi masker premium dengan harga maklum.
Dengan seiring waktu
pula pesanan terhadap masker buatannya itu justru makin membludak hingga
membuat dia kewalahan. “ini saya sedang menjahit kain untuk pembuatan masker
pesanan orang-orang, sengaja saya mematok harga yang begitu murah atau
terbilang maklum karena tujuan saya juga ingin membantu sesama untuk melawan
virus covid-19 ini.” Ujarnya.
Ia menyebut pesanannya
tidak hanya berasal dari orang biasa, namun sejumlah orang dari kalangan medis
pun turut memesan masker buatannya. Selain itu, warga dari beberapa daerah juga
turut memesan masker buatannya, mulai Sidoarjo, Gresik, Lamongan dan beberapa
kota lainnya.
“Bahan-bahan dasar kain
kian melonjak, namun saya tetap berpegang teguh untuk meminimalisir harga yang
sudah saya patok tidak berubah agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan
tetap dapat terbantu dan memang, terlihat sedikit keuntungan yang saya dapat. Namun,
ada saja rejeki yang dapat membantu saya untuk menekuni keuletan ini.”
Tegasnya.
Ia tak pernah menjual
atau memposting melalui media sosial. Kendati demikian, Ia juga masih kewalahan
dengan tingginya permintaan masker. Alhasil, Ia harus menambah tenaga penjahit
untuk menyeselesaikan pesanannya.
Ia mengaku senang
dengan peluang bisnis ini. Tetap membuatnya mendapat penghasilan meski dalam himbauan
WFH seperti ini, namun Ia tetap berharap wabah penyakit ini bisa segera hilang.
Ia mendoakan agar semua warga Indonesia segera dihindarkan dari bencaana ini.
“Ya harga yang maklum
saja, kondisinya juga lagi seperti ini. Moga-moga cepat selesai lah wabah
ini,”. Tutupnya.
Komentar
Posting Komentar